‘Dunia’ yang tidak mengenal kosa kata belas kasihan
membuat manusia jadi belingsatan, akibatnya, tak sedikit menjadi
individualis, hanya memikirkan diri sendiri tanpa pernah peduli dengan
orang lain. Dengan Islam yang membawa keyakinan berupa syahadat, rasa
simpati dan persaudaran terbangun. Siapapun yang mengikrarkan kalimat
tauhid akan menjadi saudara dengan ikatan yang kuat, melebihi kuatnya
persaudaran sedarah atau setanah air.
Terbukti, dalam riwayat Bukhari, Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
Hadist yang mulia ini menjadi sebuah pegangan untuk mengubah pandangan, bahwa setiap orang yang memeluk agama Islam menjadi saudara.
Pada kesempatan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpakaman persaudaraan kaum muslimin bagaikan sebuah bangunan yang semua sisinya saling menopang satu sama lain.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut kaum muslimin bagaikan satu tubuh yang memiliki keterikatan satu sama lain. Ia bersabda,
Demi persaudaraan ini, maka ada sejumlah hak yang harus dipenuhi setiap muslim:
Pertama: Saling menasihati
Dalam surat Al-‘Asr, ayat 3, Allah berfirman,
Dari firman yang agung ini, Allah dengan tegas meminta setiap muslim untuk saling menasihati, tidak membiarkan saudaranya di atas kemungkaran, dan tidak boleh ada satu kekeliruan terjadi pada siapapun kecuali harus diingatkan. Selain itu, apa yang diharapkan dari Allah untuk dirinya, maka juga diharapkan untuk saudaranya. Sebagaimana ingin menjadi penduduk surga, maka demikian pula hasratnya untuk mengandeng saudaranya yang lain.
“Bukankah agama itu nasihat, bukankah agama itu nasihat, bukankah agama itu nasihat,” kata Nabi, lalu para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab:
Kedua: Saling Mengayomi
Karena menjadi satu saudara, maka setiap muslim yang mampu mengangkat kesedihan saudaranya tidak boleh menelantarkannya, jangan dirinya tidur nyenyak, sementara tetangga kelaparan. Ada banyak jalan untuk saling mengayomi, bisa melalui zakat yang merupakan kewajiban setiap muslim dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan, bisa pula melalui sedekah, terkait hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendorong dan menganjurkan dalam sebuah hadistnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wsallam bersabda,
Ketiga: Saling membela, bukan sebaliknya
Diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wsallam bersabda,
Apa yang mendera jantung kaum muslimin atau yang lainnya bekalangan ini, merupakan sebuah kewajiban untuk menolong mereka dengan beragam cara yang tersedia yang bisa dicapai. Caranya amat banyak, bila memang tidak bisa berjihad bahu-membahu bersama mereka, bisa dengan cara yang lain, seperti:
Jihad dengan pena dan ilmu: Apa saja yang perlu diketahui kaum muslimin terkait agamanya, jangan berpangku tangan, kabarkan kepada mereka, juga kabarkan keadaan yang mendera saudaranya untuk menarik simpati dan lain sebagainya.
Jihad dengan harta: Telusuri orang-orang yang hidup di sekitar Anda yang tengah sekarat karena kelaparan, jumlah mereka tak terhitung di berbagai belahan bumi. Berjihadlah dengan hartamu, dan ajak semua orang untuk melakukannya, ingatlah, apa yang kauberikan bukan sekedar sedekah biasa, tapi sebuah jihad yang berharga.
Jihad dengan doa: Doa merupakan panah malam, dan panah malam tidak pernah meleset, maka jangan lupa untuk terus berdoa, jangan sekali-kali dienteng-remehkan.
Jihad dengan hati: Jadilah jembatan untuk keberhasilan saudaramu dengan mengubah diri menjadi lebih baik, bukan sebaliknya menjadi penghambat kemenangan.
Sumber: https://ar.beta.islamway.net/article/44562/لماذا-نهتم-بأمر-المسلمين
Terjemahan : http://www.pemburuilmu.com/1191-kenapa-anda-peduli-dengan-kaum-muslimin.html
Dasbo Street, Sabtu, 04/2/2017
[Marwan AM, Lc, حفظه الله تعالى وغفر الله له ولوالديه]
Terbukti, dalam riwayat Bukhari, Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain,”Hadist yang mulia ini menjadi sebuah pegangan untuk mengubah pandangan, bahwa setiap orang yang memeluk agama Islam menjadi saudara.

Pada kesempatan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpakaman persaudaraan kaum muslimin bagaikan sebuah bangunan yang semua sisinya saling menopang satu sama lain.
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti
sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain,” sebut Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam seperti diriwayatkan Imam Muslim dalam
sahihnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut kaum muslimin bagaikan satu tubuh yang memiliki keterikatan satu sama lain. Ia bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ
وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ
عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang
bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka
sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim)Demi persaudaraan ini, maka ada sejumlah hak yang harus dipenuhi setiap muslim:
Pertama: Saling menasihati
Dalam surat Al-‘Asr, ayat 3, Allah berfirman,
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran.”Dari firman yang agung ini, Allah dengan tegas meminta setiap muslim untuk saling menasihati, tidak membiarkan saudaranya di atas kemungkaran, dan tidak boleh ada satu kekeliruan terjadi pada siapapun kecuali harus diingatkan. Selain itu, apa yang diharapkan dari Allah untuk dirinya, maka juga diharapkan untuk saudaranya. Sebagaimana ingin menjadi penduduk surga, maka demikian pula hasratnya untuk mengandeng saudaranya yang lain.
“Bukankah agama itu nasihat, bukankah agama itu nasihat, bukankah agama itu nasihat,” kata Nabi, lalu para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab:
لله و لكتابه و لرسوله و لأئمة المسلمين و عامتهم
“Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)Kedua: Saling Mengayomi
Karena menjadi satu saudara, maka setiap muslim yang mampu mengangkat kesedihan saudaranya tidak boleh menelantarkannya, jangan dirinya tidur nyenyak, sementara tetangga kelaparan. Ada banyak jalan untuk saling mengayomi, bisa melalui zakat yang merupakan kewajiban setiap muslim dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan, bisa pula melalui sedekah, terkait hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendorong dan menganjurkan dalam sebuah hadistnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wsallam bersabda,
من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته، ومن
فرج عن مسلم كربة من كرب الدنيا فرج الله عنه بها كربة من كرب يوم
القيامة، ومن ستر مسلماً ستره الله يوم القيامة
“Barangsiapa memberikan pertolongan pada hajat
saudaranya, maka Allah selalu memberikan pertolongan pada hajat orang
itu. Dan barangsiapa melapangkan kepada seseorang Muslim akan satu
kesusahannya, maka Allah akan melapangkan untuknya satu kesusahan dari
sekian banyak kesusahan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi
cela seseorang Muslim maka Allah akan menutupi celanya pada hari
kiamat.” (HR: Muttafaq ‘alaih)Ketiga: Saling membela, bukan sebaliknya
Diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wsallam bersabda,
ما من امرئ يخذل امرءا مسلما فى موضع تنتهك
فيه حرمته وينتقص فيه من عرضه إلاّ خذ له الله فى موضع يحبّ فيه نصرته وما
من امرئ ينصر مسلما فى موضع ينتقص فيه من عرضه وينتهك فيه من حرمته إلاّ
نصره الله فى موطن يحبّ فيه نصرته.
”Tiada seorang melihat seorang yang sedang diganggu kehormatannya,
lalu membiarkannya tanpa pertolongan melainkan Allah akan membiarkan
orang itu tanpa pertolongan di saat ia membutuhkannya. Dan tiada seorang
menolong sesama saudara muslimnya yang sedang terganggu kehormatannya,
melainkan Allah akan menolongnya di waktu ia membutuhkannya.”Apa yang mendera jantung kaum muslimin atau yang lainnya bekalangan ini, merupakan sebuah kewajiban untuk menolong mereka dengan beragam cara yang tersedia yang bisa dicapai. Caranya amat banyak, bila memang tidak bisa berjihad bahu-membahu bersama mereka, bisa dengan cara yang lain, seperti:
Jihad dengan pena dan ilmu: Apa saja yang perlu diketahui kaum muslimin terkait agamanya, jangan berpangku tangan, kabarkan kepada mereka, juga kabarkan keadaan yang mendera saudaranya untuk menarik simpati dan lain sebagainya.
Jihad dengan harta: Telusuri orang-orang yang hidup di sekitar Anda yang tengah sekarat karena kelaparan, jumlah mereka tak terhitung di berbagai belahan bumi. Berjihadlah dengan hartamu, dan ajak semua orang untuk melakukannya, ingatlah, apa yang kauberikan bukan sekedar sedekah biasa, tapi sebuah jihad yang berharga.
ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَٰهِدُوا۟
بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ
لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan
maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan
Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
(QS: At-Taubah 9:41)Jihad dengan doa: Doa merupakan panah malam, dan panah malam tidak pernah meleset, maka jangan lupa untuk terus berdoa, jangan sekali-kali dienteng-remehkan.
Jihad dengan hati: Jadilah jembatan untuk keberhasilan saudaramu dengan mengubah diri menjadi lebih baik, bukan sebaliknya menjadi penghambat kemenangan.
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS:
Ar-Ra’d 13:11).Sumber: https://ar.beta.islamway.net/article/44562/لماذا-نهتم-بأمر-المسلمين
Terjemahan : http://www.pemburuilmu.com/1191-kenapa-anda-peduli-dengan-kaum-muslimin.html
Dasbo Street, Sabtu, 04/2/2017
[Marwan AM, Lc, حفظه الله تعالى وغفر الله له ولوالديه]
Kenapa Anda Peduli dengan Kaum Muslimin?
4/
5
Oleh
Abdullah